Kenangan Manis (KKM kel 18 UIN Maliki Mlg 2017)
Ini adalah secuplik kesan yang dapat saya ambil dari perjalan KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) UIN Maliki malang mulai tanggal 5 juli sampai dengan 5 agustus 2017 di dusun Petung Sewu desa Duwet Kecamatan Tumpang Malang. Sedikit dramatis banyak manisnya :D Namun itulah kenyataannya. sebenarnya saya belum memberikan judul untuk tulisan ini, kemudian ketua kelompok saya lah yang memberikan judul yaitu "KENANGAN MANIS". Dia bisa memberikan judul seperti setelah membaca dari kesan saya di bawah ini hehehe
Jika disuruh untuk menyampaikan kesan selama satu bulan kkm kemarin, sepertinya jari ini tidak sanggup untuk mengutarakannya melalui tulisan di lembaran ini. Jika disuruh untuk mengulang kkm selama satu bulan kemarin, saya akan mengulangnya dengan lebih baik lagi agar di setiap waktu dan kesempatan yang ada akan saya gunakan sebaik mungkin. Jika disuruh untuk melanjutkan untuk kkm selama satu bulan kemarin dan menambahkan waktu lagi, jujur dengan senang hati saya masih sanggup untuk melakukannya.
Mungkin banyak diantara pembaca yang befikir, apa yang disukai dari kkm? Apa enaknya? Bukanya disana di tuntut untuk beginilah begitulah dan lain-lain? iya, jawaban saya yaitu, kalau sudah terlanjur nyaman harus gimana lagi? Wkwk mungkin itu salah satu alasan saya betah selama kkm. Mungkin itu terdengar lucu, namun itulah yang saya rasakan selama satu bulan kemarin. Kalau ditanya apakah rindu? Jelas saya menjawab iya, rindu dengan semuanya ada apapun tentangnya.
Berawal dari ketidaktahuan tentang siapa teman satu kelompok saya, bagaimana karakter mereka dan yang paling saya takutkan adalah dapatkah mereka menerima saya. Setelah kkm itu berjalan mau tidak mau kami harus saling bertemu setiap hari, bahkan disetiap hari mulai membuka mata hingga mata tertutup lagi merekalah yang saya temui. Mulai dari situlah akhirnya saya dapat memahami karakter satu sama lain dari teman sekelompok atau yang bisa saya sebut keluarga baru itu. Senang bisa berjalan berdampingan bersama dengan kalian, walaupun tidak sedikit waktu yang dilalui untuk berdebat disana. Hal sepelepun di permasalahkan dan menjadi bahan candaan, mulai dari cara memasak, nama bahan atau makan disekitar, logat bicara, bahkan kebiasaan tingkah laku. Iya namanya saja kita ditakdirkan bertemu dengan perbedaan. Lewat perbedaan itulah kami menjadi satu.
Masalah pun tidak datang sekali atau dua kali, yang namanya tinggal di tanah orang ya harus memahami tentang mereka juga. Memahami kebiasaan mereka, memahami adat budaya disana dan yang terpenting harus bisa beradaptasi dengan cuaca disana. Karena menurut saya cuaca disana tepatnya ditempat saya kkm yaitu di dusun petung sewu desa duwet kecamatan tumpang kabupaten malang itu bisa terbilang sangat dingin, mungkin saya beranggapan seperti itu karena kebiasaan saya yang tinggal di daerah yang panas yaitu Lamongan.
Setelah mengamati keadaan sekitar waktu demi waktu telah saya dan teman-teman lalui bersama, dan akhirnya kami memahami bahwasanya pendidikan disana kurang diperhatikan apalagi tentang ilmu agama. Kemudian kami dan anggota posdaya memutuskan untuk membentuk TPQ yang berpusatkan di masjid tempat posdaya kami yaitu masjid Nurul Huda, dan Alhamdulillah dapat berjalan dengan lancar atas bantuan dari beberapa pihak.
Saya juga sangat bersyukur karena disana kami bertemu dengan warga yang baik dan dapat menerima kedatangan kami, namun diantara mereka ada satu yang membuat saya sangat berkesan disana yaitu dengan adanya satu ibu-ibu yang sangat baik, perhatian, dapat membaur, dermawan dan menganggap kami seperti anak sendiri. Beliaulah yang telah membuat saya meneteskan air mata dan berat hati ketika akan meninggalkan dusun petung sewu tersebut, dan ditambah lagi beberapa tangisan anak kecil yang mereka tiap harinya mengaji dan belajar bersama dengan kami.
Sebenarnya masih banyak lagi kenangan yang telah terukir di satu bulan ini. Candaan, cacian, senyuman, air mata, keharuan, kasih sayang, kemarahan, dan yang pasti adalah saya tidak pernah menyesal telah di takdirkan bertemu dengan kalian semua dalam perjalanan kali ini. Terimakasih karena telah memberikan pengalaman yang tidak akan dilupakan, dan semua ini tak luput dari bimbingan pak Ali selaku DPL dan dua kakak relawan kelompok 18 ini.
Komentar
Posting Komentar